SABDA INDOMIE
"Dunia ini luas, konsep ketuhanan memiliki beribu pemahaman. Apabila kita tidak dapat melepaskan pandangan kita mengenai banyaknya perbedaan dimuka bumi ini, maka muka bumi ini bukanlah untuk kita."
Saya selalu bertengkar dengan adik saya tentang mie mana yang lebih enak. Dia suka mie sedaap. Saya suka Indomie. Kami sering beradu argumen, mengutuk satu sama lain. Terus begitu dari waktu ke waktu.
Sampai disatu titik saya fikir pertengkaran ini harus kami sudahi. Karena saya tidak mau pertengkaran ini memecah persaudaraan yang sudah dibangun sejak lahir hanya gara-gara bumbu yang berbeda.
Ketika Bung Vallen (komentator bola), dalam komentarnya suka menyerukan bahwa rakyat Indonesia harus bersatu, junjung terus Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua. Nah, dari situ saya berfikir bahwa kita harus tetap bersatu walaupun berbeda suku, budaya, agama, termasuk berbeda mie instan, kita harus tetap bersatu.
Fanatisme berlebihan itu tidak baik. Apakah kamu sebegitu takutnya dengan sesamamu yang berbeda mie darimu sehingga kamu memilih jalan perselisahan, wahai saudaraku?
Let this serves as an example of someone we should not thrive to become. Saya ingin dunia per-mie-an ini senantiasa wangi dengan segala keanekaragaman bumbu dan rasa yang ada, apapun aliran kepercayaan (mie)nya.
Sabda Nabi Muhammad saw: "Bagiku agamaku, bagimu agamamu". Agama berasal dari bahasa sansakerta, yang berarti tradisi. Agama pada dasarnya bertujuan untuk mengayomi dan menjadi wadah umat. Jadi ketahuilah saudaraku, di agama manapun, tak pernah ada Tuhan yang mengizinkan umatnya memecah belah dan mengkafirkan umat yang lain.
Jadi apa yang telah kamu (saudaraku) lakukan selama ini dengan mengejek kelezatan indomie-ku, sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti. "Bagiku indomieku, bagimu mie sedaapmu."
Sesungguhnya toleransi rasa itu sangatlah nikmat.
Stay delicious, brother.

Komentar
Posting Komentar